Kamis, 18 Oktober 2012

Manipulasi demi gratifikasi

Salam damaiku selalu, pembaca terkasih..

hari ini kita melanjutkan kisah hidupku yang penuh warna pelangi ya

kemaren-kemaren, kisah balitaku berakhir sampai saat pertama masuk SD kelas 1 ya
waktu itu kan, aku pernah nangis di hari pertama karena tidak bisa membaca huruf
dan nangisnya ga yang keras-keras kayak balita zaman sekarang ya
HHHHH, ya,,karena memang kan waktu kecil, aku ini tabah.. jdi nangisnya sambil terisak2 aza

hari berikutnya di kelas satu SD, perlahan-lahan, ada semacam niat kuat dalam diriku tuk bisa memahami pelajaran yang diberikan ibu guru. Nah, semester pertama terima rapor, aku mendapatkan rangking 20. Saat itu jelas aza ga paham buat apa ada rangking. Belajar dan terus belajar sambil bermain tentunya, aku menikmati sekali.Tibalah saat semester kenaikan kelas, saat pembagian rapor, ternyata rangkingku ada di angka 6. Wah, seakan tak percaya, aku berlari penuh rasa haru dan memeluk papa, sambil memperlihatkan raporku. Terlihat senyum bahagia di balik kumis papa. Saat itu rasanya sangat menakjubkan, aku ingat sekali saat itu, papa mengelus kepalaku tanpa berkata sepatah katapun.

Dan kemudian aku naik ke kelas 2, di mana waktu itu mama sudah tidak mengantar kami ke sekolah, biasanya mama yang anter dan drop kami di sekolah, kemudian mama pulang dan sore harinya papa yang jemput. Namun kali ini setelah setahun lalu lalang. rumah dan sekolah, akhirnya aku dan abangku Wandy berangkat tanpa orangtua, waktu itu ongkos bemo per kepala Rp. 25, murah ya ? Setiap hari aku dan abang diberi uang jajan Rp. 100 termasuk ongkos pulang pergi naik bemo. Ada satu kisah luarbiasa saat duduk di bangku kelas 2, entah itu dikatakan tragis, memiluka, memalukan atau apalah, aku benar2 tidak mengerti waktu itu. Sebulan setelah mengikuti pelajaran di kelas 2, suatu hari ada anak baru namanya Anna yang diperkenalkan bu guru kepada kami.

Ternyata Anna ini seorng anak yang sangat jenius, sangat pandai, luarbiasa. Semua pelajaran yang diberikan guru, dapat dihapalkan luarkepala, sampai ke titik dan koma, bayangkan. Misalnya ada pelajaran yang harus kami catat dan dijadikan pekerjaan rumah, maka saat diminta maju ke depan, semua soal dan jawaban bisa disebutkan luarkepala. Kami sangat takjub dan semua guru sangat menyayanginya. Kebetulan, aku duduk tepat di bangku belakang Anna. Nah, waktu itu sedang trend pensil yang seperti pulpen, yang bisa diklik klik gitu. Pas waktu itu papa membelikanku satu pensil dan ternyata saat di kelas, pensil Anna persis sama dengan punyaku. Lalu aku bialng ke Anna, sambil memperlihatkan pensil kami yang sama, terlihat wajah Anna datar saja, tidak ada reaksi apapun.

Keesokan hari seperti biasa, proses belajar di kelas, saat aku mengeluarkan pensilku, langsung direbut Anna, sambil dia memasang muka marah. Anna mengatakan bahwa pensil yang kupegang adalah pensilnya, aku telah mengambil pensilnya. Waduh, betapa kagetnya diriku, saat itu juga aku meminta teman sebangkuku Rosyanti namanya untuk menjadi saksi bahwa kemaren dia melihat kalo pensil kami sama, kan. Namun, aku kurang beruntung saat itu, karena Ros tidak mengiyakan, hanya mengatakan tidak tau. Dan Anna mengancam akan melaporkan ke bu guru jika aku telah mencuri pensilnya. Bayangkan saya, betapa goncang batinku saat itu, saat dituduh sebagai seorang pencuri. Tanpa ingin memperkeruh masalah, kuserahkan pensilku kepada Anna. Dan sejak itu, gairah belajarku hilang, rasanya sangat tertekan, di kelas, aku hanya tidur dan memilih duduk di bangku paling belakang, paling pojok, di mana tidak terlihat oleh guru.
Di benakku saat itu, aku ini pencuri, dan aku tidak berani mengadukan perasaanku pada orangtuaku. Karena aku tidak mau menambah kesusahan mereka.

Kemudian, naik ke kelas 3, suasana hatiku mulai membaik, karena telah melewati liburan selama sebulan di desa kelahiran papa di Perbaungan. Dan guru wali kelas kami ibu Ernawati Ginting pun terlihat agak keibuan dan baik hati. Semester pertama, aku masih berada di rangking 10 besar, terus belajar dan belajar. Hingga saat hampir ujian kenaikan kelas, tiba2 saja, salah satu teman kelasku yang notabene orang kaya, namanya Lisa. terkena usus buntu dan dibawa operasi ke Singapore. Kalo ga salah, ada satu dua mata pelajaran yang tidak diikutinya. Setelah beberapa minggu, tibalah saat pembagian rapor, satu persatu kami dipanggil ke depan. Aku ada dinomer 7, dan kulihat rangking 7 ku ada bekas coretan dari angka 5, entah mengapa, langsung kuingat2 siapa yang ada di posisi 5, ternyata Lisa, si anak orang kaya yang habis operasi di Singapore. Sehari sebelumnya, kulihat memang Lisa membawakan oleh-oleh buat bu guru Ernawati. Dan kemudian aku menuju ke bangku nya Lisa dan meminjam buku rapor nya, ternyata rangking 7 yang ada di dia dicoret jadi 5, dan kulihat penjumlahan rata-rata rapor ku lebih tinggi darinya. Seketika itu kembali aku terpukul. Bayangkan saja, anak umur 10 tahun, mengalami tekanan dan penipuan hanya karena si bu guru diberikan gratifikasi oleh anak orang kaya, sehingga ketidakadilan yang kuterima.

Waktu itu tentu saja aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya kupendam sendiri, dan sejak saat itu, segala kebaikan bu guru hilang di mataku, selama ini, ibu guru yang kukagumi karena kehangatan dan kesabarannya luluh sudah..

sekian dulu ya, sahabatku..
kali lain akan kuceritakan kembali langkah-langkah yang telah kulalui hingga menjadi damai seperti saat ini.


salam apa adanya dalam pelangi semesta
,, (^_^) ,,
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar