salam damai selalu,
pagi menjelang siang ini, sungguh hal yang sedikit menyedihkan bagiku
biasalah, ga jauh-jauh masalah keduniaan.
Berawal dari niat tulus, aku nelepon mama,
karena badai Sandy yang sedang mampir di sana.
Bersyukur banget kalo di tempat mama hanya angin yang kencangm tidak disertai banjir.
Setelah sedikit lega, beralihlah pembicaraan kami ke arah lain,
mama cerita kalau si A sudah kaya raya sekarang, nasibnya bagus, karena anaknya sukses dan membelikannya rumah mewah .. bla bla bla..
si B juga sekarang udah kaya raya, sekarang pindah ke Muara Karang, beli rumah yang milyaran rupiah dan bla bla bla
si C, juga sering tour keluar negri, karena anaknya sukses dan memanjakannya
..
tebaklah, aku hanya bisa terpelongo mendengarnya.. HHHH
lagi-lagi itu..lagi-lagi itu..
mau sampe kapan menceritakan ttg hal-hal duniawi ?
sementara aku hanyalah seorang cleaning service, dan ga punya apa-apa buat mamaku
betapa sedihnya..iya kan ?
akhirnya, kututup pembicaraan kami dengan perasaan kacau balau.
kemudian, aku ada tugas mengantarkan barang ke daerah Nusa Loka
sepanjang jalan, dengan mengendarai motor bututku, aku nelangsa
memikirkan nasibku, rasanya hina banget ya.
mengapa ya aku ga dilahirkan jadi anak org kaya
mengapa ya aku ga kaya-kaya sekarang
kalo kaya, kan bisa membuat mamaku bahagia
bisa belikan tas senilai puluhan juta, bisa beliin rumah mewah,,
HHH.. airmataku terus nongkrong di pelupuk mata, hadeww.. perih deh rasanya,..
akhirnya aku sampe di kantor, kemudian mengeluarkan makan siang yang kubawa dari rumah.
setelah slesai makan, temanku telepon, dan tanpa sengaja aku bilang hari ini aku sedih.
Biasa, masalah dengan mamaku, tentang keduniawian, begitulah adanya antara mama dan akum ga jauh-jauh ceritanya tentang uang, kekayaan, kesuksesan, dan sejenisnya.. Temanku bilang, ga usah sedih, biasa mamak-mamak kan emang gitu. HHHH.. tapi aku ga mau kayak gitu ah, dan sepertinya sampe saat ini pun aku ga kek gitu, ga pernah milih teman, mau pemulung, mau dia artis, mau pejabat, sama aza di hadapanku, semua punya kelbihan dan semua punya kekurangan. Tidak ada yang lebih baik antara satu dengan yang lain, semua sama bagiku.
Nah, kemudian, aku baca-baca blog spiritual, dan pas membaca karangan Thubten Chodron tentang kebahagiaan dan penderitaan, membuatku sadar, dan mengerti. HHHH, bodohnya akuuuuu...
bahagia dan sedih itu kan adanya di dalam, aku yang buat sendiri
ngapain aku sampai sedih karena hal yang berasal dari luar, sampe sampe aku kecewa ama mamaku..
mengapa aku harus minta orang mengerti dan memahamiku, bukankah harusnya aku yang mengerti dan memahami org lain, dengan cara menyadari semua itu hanya semu belaka. Dan tidak usah terpengaruh oleh hal-hal di luar diriku. Selama merasa jadi cleaning service ini aku bahagia selama ini dan ga pernah kekurangan, terlebih ga pernah kekurangan udara buat bernafas dan air untuk minum, maka aku patut merasa sudah kaya melebihi kriteria kaya yang dibuat orang. iya ga ???
akhirnya aku lega, ah, aku ini memang bodoh..
Terima kasih kepada semesta yang segera membantu memberikan kesadaran kepadaku akan apa yang kualami ini. Aku sebenarnya sudah bahagia, karena bahagiaku ada di dalam dan berasal dari dalam diriku, aku bahagia melayani suami dan anak-anakku, aku bahagia bisa melayani komunitasku, aku bahagia walau sebagai seorang yang miskin aku masih selalu memikirkan org2 yg kekurangan yang lebih membutuhkan dariku, pokoknya aku bahagia, dan ga mau sedih lagi. Hal-hal di luar ga akan lagi membuatku ga berarti, aku akan berusaha ga menyalahkan hal-hal di luar diriku, aku akan terus membangun jiwaku supaya lebih bersih dan lebih bersih lagi.
salam apa adanya, pembacaku terkasih..
.. (^_^) ,,
Rabu, 31 Oktober 2012
Kamis, 18 Oktober 2012
Manipulasi demi gratifikasi
Salam damaiku selalu, pembaca terkasih..
hari ini kita melanjutkan kisah hidupku yang penuh warna pelangi ya
kemaren-kemaren, kisah balitaku berakhir sampai saat pertama masuk SD kelas 1 ya
waktu itu kan, aku pernah nangis di hari pertama karena tidak bisa membaca huruf
dan nangisnya ga yang keras-keras kayak balita zaman sekarang ya
HHHHH, ya,,karena memang kan waktu kecil, aku ini tabah.. jdi nangisnya sambil terisak2 aza
hari berikutnya di kelas satu SD, perlahan-lahan, ada semacam niat kuat dalam diriku tuk bisa memahami pelajaran yang diberikan ibu guru. Nah, semester pertama terima rapor, aku mendapatkan rangking 20. Saat itu jelas aza ga paham buat apa ada rangking. Belajar dan terus belajar sambil bermain tentunya, aku menikmati sekali.Tibalah saat semester kenaikan kelas, saat pembagian rapor, ternyata rangkingku ada di angka 6. Wah, seakan tak percaya, aku berlari penuh rasa haru dan memeluk papa, sambil memperlihatkan raporku. Terlihat senyum bahagia di balik kumis papa. Saat itu rasanya sangat menakjubkan, aku ingat sekali saat itu, papa mengelus kepalaku tanpa berkata sepatah katapun.
Dan kemudian aku naik ke kelas 2, di mana waktu itu mama sudah tidak mengantar kami ke sekolah, biasanya mama yang anter dan drop kami di sekolah, kemudian mama pulang dan sore harinya papa yang jemput. Namun kali ini setelah setahun lalu lalang. rumah dan sekolah, akhirnya aku dan abangku Wandy berangkat tanpa orangtua, waktu itu ongkos bemo per kepala Rp. 25, murah ya ? Setiap hari aku dan abang diberi uang jajan Rp. 100 termasuk ongkos pulang pergi naik bemo. Ada satu kisah luarbiasa saat duduk di bangku kelas 2, entah itu dikatakan tragis, memiluka, memalukan atau apalah, aku benar2 tidak mengerti waktu itu. Sebulan setelah mengikuti pelajaran di kelas 2, suatu hari ada anak baru namanya Anna yang diperkenalkan bu guru kepada kami.
Ternyata Anna ini seorng anak yang sangat jenius, sangat pandai, luarbiasa. Semua pelajaran yang diberikan guru, dapat dihapalkan luarkepala, sampai ke titik dan koma, bayangkan. Misalnya ada pelajaran yang harus kami catat dan dijadikan pekerjaan rumah, maka saat diminta maju ke depan, semua soal dan jawaban bisa disebutkan luarkepala. Kami sangat takjub dan semua guru sangat menyayanginya. Kebetulan, aku duduk tepat di bangku belakang Anna. Nah, waktu itu sedang trend pensil yang seperti pulpen, yang bisa diklik klik gitu. Pas waktu itu papa membelikanku satu pensil dan ternyata saat di kelas, pensil Anna persis sama dengan punyaku. Lalu aku bialng ke Anna, sambil memperlihatkan pensil kami yang sama, terlihat wajah Anna datar saja, tidak ada reaksi apapun.
Keesokan hari seperti biasa, proses belajar di kelas, saat aku mengeluarkan pensilku, langsung direbut Anna, sambil dia memasang muka marah. Anna mengatakan bahwa pensil yang kupegang adalah pensilnya, aku telah mengambil pensilnya. Waduh, betapa kagetnya diriku, saat itu juga aku meminta teman sebangkuku Rosyanti namanya untuk menjadi saksi bahwa kemaren dia melihat kalo pensil kami sama, kan. Namun, aku kurang beruntung saat itu, karena Ros tidak mengiyakan, hanya mengatakan tidak tau. Dan Anna mengancam akan melaporkan ke bu guru jika aku telah mencuri pensilnya. Bayangkan saya, betapa goncang batinku saat itu, saat dituduh sebagai seorang pencuri. Tanpa ingin memperkeruh masalah, kuserahkan pensilku kepada Anna. Dan sejak itu, gairah belajarku hilang, rasanya sangat tertekan, di kelas, aku hanya tidur dan memilih duduk di bangku paling belakang, paling pojok, di mana tidak terlihat oleh guru.
Di benakku saat itu, aku ini pencuri, dan aku tidak berani mengadukan perasaanku pada orangtuaku. Karena aku tidak mau menambah kesusahan mereka.
Kemudian, naik ke kelas 3, suasana hatiku mulai membaik, karena telah melewati liburan selama sebulan di desa kelahiran papa di Perbaungan. Dan guru wali kelas kami ibu Ernawati Ginting pun terlihat agak keibuan dan baik hati. Semester pertama, aku masih berada di rangking 10 besar, terus belajar dan belajar. Hingga saat hampir ujian kenaikan kelas, tiba2 saja, salah satu teman kelasku yang notabene orang kaya, namanya Lisa. terkena usus buntu dan dibawa operasi ke Singapore. Kalo ga salah, ada satu dua mata pelajaran yang tidak diikutinya. Setelah beberapa minggu, tibalah saat pembagian rapor, satu persatu kami dipanggil ke depan. Aku ada dinomer 7, dan kulihat rangking 7 ku ada bekas coretan dari angka 5, entah mengapa, langsung kuingat2 siapa yang ada di posisi 5, ternyata Lisa, si anak orang kaya yang habis operasi di Singapore. Sehari sebelumnya, kulihat memang Lisa membawakan oleh-oleh buat bu guru Ernawati. Dan kemudian aku menuju ke bangku nya Lisa dan meminjam buku rapor nya, ternyata rangking 7 yang ada di dia dicoret jadi 5, dan kulihat penjumlahan rata-rata rapor ku lebih tinggi darinya. Seketika itu kembali aku terpukul. Bayangkan saja, anak umur 10 tahun, mengalami tekanan dan penipuan hanya karena si bu guru diberikan gratifikasi oleh anak orang kaya, sehingga ketidakadilan yang kuterima.
Waktu itu tentu saja aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya kupendam sendiri, dan sejak saat itu, segala kebaikan bu guru hilang di mataku, selama ini, ibu guru yang kukagumi karena kehangatan dan kesabarannya luluh sudah..
sekian dulu ya, sahabatku..
kali lain akan kuceritakan kembali langkah-langkah yang telah kulalui hingga menjadi damai seperti saat ini.
salam apa adanya dalam pelangi semesta
,, (^_^) ,,
hari ini kita melanjutkan kisah hidupku yang penuh warna pelangi ya
kemaren-kemaren, kisah balitaku berakhir sampai saat pertama masuk SD kelas 1 ya
waktu itu kan, aku pernah nangis di hari pertama karena tidak bisa membaca huruf
dan nangisnya ga yang keras-keras kayak balita zaman sekarang ya
HHHHH, ya,,karena memang kan waktu kecil, aku ini tabah.. jdi nangisnya sambil terisak2 aza
hari berikutnya di kelas satu SD, perlahan-lahan, ada semacam niat kuat dalam diriku tuk bisa memahami pelajaran yang diberikan ibu guru. Nah, semester pertama terima rapor, aku mendapatkan rangking 20. Saat itu jelas aza ga paham buat apa ada rangking. Belajar dan terus belajar sambil bermain tentunya, aku menikmati sekali.Tibalah saat semester kenaikan kelas, saat pembagian rapor, ternyata rangkingku ada di angka 6. Wah, seakan tak percaya, aku berlari penuh rasa haru dan memeluk papa, sambil memperlihatkan raporku. Terlihat senyum bahagia di balik kumis papa. Saat itu rasanya sangat menakjubkan, aku ingat sekali saat itu, papa mengelus kepalaku tanpa berkata sepatah katapun.
Dan kemudian aku naik ke kelas 2, di mana waktu itu mama sudah tidak mengantar kami ke sekolah, biasanya mama yang anter dan drop kami di sekolah, kemudian mama pulang dan sore harinya papa yang jemput. Namun kali ini setelah setahun lalu lalang. rumah dan sekolah, akhirnya aku dan abangku Wandy berangkat tanpa orangtua, waktu itu ongkos bemo per kepala Rp. 25, murah ya ? Setiap hari aku dan abang diberi uang jajan Rp. 100 termasuk ongkos pulang pergi naik bemo. Ada satu kisah luarbiasa saat duduk di bangku kelas 2, entah itu dikatakan tragis, memiluka, memalukan atau apalah, aku benar2 tidak mengerti waktu itu. Sebulan setelah mengikuti pelajaran di kelas 2, suatu hari ada anak baru namanya Anna yang diperkenalkan bu guru kepada kami.
Ternyata Anna ini seorng anak yang sangat jenius, sangat pandai, luarbiasa. Semua pelajaran yang diberikan guru, dapat dihapalkan luarkepala, sampai ke titik dan koma, bayangkan. Misalnya ada pelajaran yang harus kami catat dan dijadikan pekerjaan rumah, maka saat diminta maju ke depan, semua soal dan jawaban bisa disebutkan luarkepala. Kami sangat takjub dan semua guru sangat menyayanginya. Kebetulan, aku duduk tepat di bangku belakang Anna. Nah, waktu itu sedang trend pensil yang seperti pulpen, yang bisa diklik klik gitu. Pas waktu itu papa membelikanku satu pensil dan ternyata saat di kelas, pensil Anna persis sama dengan punyaku. Lalu aku bialng ke Anna, sambil memperlihatkan pensil kami yang sama, terlihat wajah Anna datar saja, tidak ada reaksi apapun.
Keesokan hari seperti biasa, proses belajar di kelas, saat aku mengeluarkan pensilku, langsung direbut Anna, sambil dia memasang muka marah. Anna mengatakan bahwa pensil yang kupegang adalah pensilnya, aku telah mengambil pensilnya. Waduh, betapa kagetnya diriku, saat itu juga aku meminta teman sebangkuku Rosyanti namanya untuk menjadi saksi bahwa kemaren dia melihat kalo pensil kami sama, kan. Namun, aku kurang beruntung saat itu, karena Ros tidak mengiyakan, hanya mengatakan tidak tau. Dan Anna mengancam akan melaporkan ke bu guru jika aku telah mencuri pensilnya. Bayangkan saya, betapa goncang batinku saat itu, saat dituduh sebagai seorang pencuri. Tanpa ingin memperkeruh masalah, kuserahkan pensilku kepada Anna. Dan sejak itu, gairah belajarku hilang, rasanya sangat tertekan, di kelas, aku hanya tidur dan memilih duduk di bangku paling belakang, paling pojok, di mana tidak terlihat oleh guru.
Di benakku saat itu, aku ini pencuri, dan aku tidak berani mengadukan perasaanku pada orangtuaku. Karena aku tidak mau menambah kesusahan mereka.
Kemudian, naik ke kelas 3, suasana hatiku mulai membaik, karena telah melewati liburan selama sebulan di desa kelahiran papa di Perbaungan. Dan guru wali kelas kami ibu Ernawati Ginting pun terlihat agak keibuan dan baik hati. Semester pertama, aku masih berada di rangking 10 besar, terus belajar dan belajar. Hingga saat hampir ujian kenaikan kelas, tiba2 saja, salah satu teman kelasku yang notabene orang kaya, namanya Lisa. terkena usus buntu dan dibawa operasi ke Singapore. Kalo ga salah, ada satu dua mata pelajaran yang tidak diikutinya. Setelah beberapa minggu, tibalah saat pembagian rapor, satu persatu kami dipanggil ke depan. Aku ada dinomer 7, dan kulihat rangking 7 ku ada bekas coretan dari angka 5, entah mengapa, langsung kuingat2 siapa yang ada di posisi 5, ternyata Lisa, si anak orang kaya yang habis operasi di Singapore. Sehari sebelumnya, kulihat memang Lisa membawakan oleh-oleh buat bu guru Ernawati. Dan kemudian aku menuju ke bangku nya Lisa dan meminjam buku rapor nya, ternyata rangking 7 yang ada di dia dicoret jadi 5, dan kulihat penjumlahan rata-rata rapor ku lebih tinggi darinya. Seketika itu kembali aku terpukul. Bayangkan saja, anak umur 10 tahun, mengalami tekanan dan penipuan hanya karena si bu guru diberikan gratifikasi oleh anak orang kaya, sehingga ketidakadilan yang kuterima.
Waktu itu tentu saja aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya kupendam sendiri, dan sejak saat itu, segala kebaikan bu guru hilang di mataku, selama ini, ibu guru yang kukagumi karena kehangatan dan kesabarannya luluh sudah..
sekian dulu ya, sahabatku..
kali lain akan kuceritakan kembali langkah-langkah yang telah kulalui hingga menjadi damai seperti saat ini.
salam apa adanya dalam pelangi semesta
,, (^_^) ,,
Langganan:
Komentar (Atom)