Salam bahagia slalu,
Rasanya udah
hampir 3 tahun aku punya blog..
Tapi perasaan,
isinya kurang rasa ya.. (^^)
Pas duduk-duduk
tadi, akhirnya kuputuskan untuk memulai sesuatu
Mulai saat ini,
detik ini..
Aku akan berusaha
menyajikan kisah hidupku apa adanya
Jadi kalo
diibaratkan, seperti sebuah buku harian..
Aku akan berusaha
berbagi kisah apa yang telah kualami..
Bagaimana aku
bisa sampai dan masih bernafas hari ini (^_^)
Semoga pembaca
yang berkunjung ke blog ini..
Dapat ikut
merasakan berbagai perasaanku, entah itu manis maupun pahit
Semua adalah
proses yang telah kujalani selama ini..
Selamat mengikuti
episode demi episode ya..
Namaku Huang Shu
Shu.. itu aslinya ya.. terlahir di hari anak 40 tahun yang lalu
Kisah kelahiranku
ini sangat unik sebenarnya,,
Adalah masa-masa
itu, keadaan orangtuaku sangatlah memprihatinkan.
Mereka tinggal di
sebuah tempat kost yang sangat sederhana, saat mengandungku itu, mama juga sedang menyusui abangku
Andy.
Beberapa tahun
yang lalu, mamaku pernah menceritakan bahwa, sebenarnya kelahiranku ini
tidaklah diharapkan, alias tak terduga. Ditengah keadaan ekonomi dan situasi
politik yang tidak nyaman, mama mengetahui dirinya mengandung lagi saat sudah
memasuki usia kandungan 5 bulan. Selama ini ternyata, mama telah seringkali
melakukan pembatalan terhadap pembuahan di rahimnya, jdi kalo dihitung2,
mungkin aku ini anak yang ke sekian belas. (^_^)
Proses kelahiranku
dibantu seorng bidan, dan sangatlah rumit, sehingga menyebabkan trauma mendalam
bagi mama untuk memiliki keturunan berikutnya. Karena trauma melahirkan diriku,
kemudian mamapun memutuskan steril, yang kebetulan saat itu ada program KB
gratis, salah satunya adalah steril pembuahan bagi rahim wanita.
Sebenarnya kehidupan
mama semasa muda juga sangat menyedihkan, di mana saat usia 13 tahun, beliau
telah ditinggal wafat ibundanya tercinta, sehingga mereka hampir tidak pernah
merasakan kasih sayang seorang ibu, yang kebetulan pun sejak nenek meninggal,
kakek tidak lagi pernah menikah. Kakekku adalah seorang tukang kayu, membuat
perabotan rumah tangga.Demikian sekilas informasinya (^_^)
Kembali lagi ke
cerita tentang diriku ya, nah, ternyata, kata mama, aku ini ga suka minum susu, jadi sejak 5 bulan
terlahir ke dunia ini, minumnya hanya air putih dan teh manis saja.. keren juga
ya. Nah, waktu terus berlalu, hingga saat usiaku menginjak sekitar 3-4 tahun,
kedua orangtuaku merantau ke ibukota, yang kebetulan pamanku, adek mama, menjadi
manajer yang sukses kehidupannya di ibukota ini. Namun mama papa tetap saja kos
di tempat sederhana sambil terus mencari kerja untuk bertahan hidup. Demikian susahnya
kehidupan kami, sampai-sampai setiap hari harus minta tolong ke warung nasi
agar pembayaran makanan boleh belakang hari. Saat itu harga sepiring nasi plus
kuah sayur asem Rp. 25.
Dan yang luarbiasa, kata mama, aku ini tidak pernah
rewel semasa kecil. Salah satu anak yang tabah dan ga nyusahin orangtua. Coba bayangkan,
setiap hari makan hanya sekali, cukup jam 11 siang makan nasi plus sayur asem,
sampe keesokan hari, aku tidak pernah nangis kelaparan atau apapun yang bisa
membuat gelisah orangtuaku. Dan hal ini baru saja kuketahui 5 tahun terakhir
ini..
Saat aku tau bahwa
aku ini sangat sabar, kuucapkan puji syukur kepada Sang Maha Tunggal, pemelihara
semesta alam ini, betapa bahagianya aku bisa terlahir dengan sebuah kepribadian
yang sederhana dan luarbiasa buat takaran seorang balita.. sungguh luarbiasa
rasanya, pembacaku.. aku sungguh merasa sangat terberkati terlahir ke dunia
ini, walau dalam kondisi yang apa adanya.. (^^)
Ah, mungkin ada
di antara pembaca yang menganggapku besar kepala, namun sebaliknya yang
kurasakan hanya berkat luarbiasa, tidak lebih dari itu dan tidak ada yang lain.
Demikianlah kemudian hari demi hari kami jalani, hingga akhirnya papa mama
memutuskan kembali lagi ke daerah meninggalkan kerasnya ibukota. Saat itu
usiaku 6 tahun, dan kami menumpang tinggal dan hidup di rumah kakek, bersama
beberapa keluarga yang lain. Aku ingat, kami tidur di atas loteng yang gelap,
di bawah atap seng, karena memang hanya di sana tempat yang memungkinkan di rumah kakek. Semua ruangan di rumah sudah ditempati saudara2 mamaku yang juga sudah berkeluarga, kalo tidak salah ada 4 keluarga di rumah kakekku itu. Tidak pernah
aku rewel maupun nangis, aku hanya diam dan ke mana-mana hanya mengekor mamaku
saja. Beberapa waktu lamanya aku tinggal di sana, dan suatu hari, pas akan
menyebrang ke lapangan bola, entah mengapa, sebuah vespa menghantamku, sehingga
tubuh mungilku terlempar dan aku pingsan seketika. Mama yang sedang berdiri di depan pintu
berteriak histeris. Aku tidak ingat siapa yang menggendongku ke dalam rumah,
meletakkanku di atas kursi, hingga aku sadar kembali. Saat itu dari hidungku
bercucuran darah, dan sejak itu, hingga 20 tahun kemudian, aku selalu mengalami
mimisan, secara tiba-tiba, entah itu kala keadaan dingin, atau sedang bermain
atau saat panas terik, maka selalu ada darah mengalir dari hidungku..
Setahun kemudian,
kakek menjual rumah yang di tempatinya, dan mama pun mendapatkan bagian dari
penjualan rumah, sehingga kami bisa membeli sebuah rumah sederhana ukuran 4 x 9
m di daerah pinggiran kota. Waktu itu harga rumah Rp. 500.000.
Saat itu usiaku
dah hampir 7 tahun dan saatnya masuk sekolah dasar. Waktu itu mama
mendaftarkanku pada sekolah terbaik di daerahku, sebuah sekolah Katolik dengan
iuran sekolah yang tergolong mahal, karena keadaan ekonomi papa yang pas-pasan,
jatah sekolahku masuk sore hari bersama abangku Andy.
Jadi SD kami itu ada 3,
SD 1 dan 3 itu sekolah pagi, buat anak2 orang kaya dan mampu, sedangkan sekolahnya mulai siang hingga sore, dan
diperuntukkan kalangan menengah ke bawah. Ini jelas kok, sudah kuperhatikan
kondisi teman2 ku saat itu. Biasanya para anak orang kaya, mereka rata2 mampu
masuk Taman Kanak2 sebelum memasuki sekolah dasar, sementara bagi kami, cukup
langsung saja masuk ke SD nya. Jadi kebayang kan, aku ini belum mengenal huruf
samasekali.
Kejadian hari
pertama masuk sekolah, aku memakai baju merah marun pemberian tanteku,
berhubung badanku yang tinggi besar, maka aku di tempatkan bu guru di barisan
paling belakang.
Nah, aku ingat
sekali, saat bu guru memperkenalkan diri, kemudian berjalan menuju masing2
kami, sambil bertanya, apakah ada yang telah mengenal huruf. Saat bu guru
bertanya padaku sambil memegang penggaris kayu yang panjang, entah mengapa aku
langsung menangis. Bu guru menuliskan huruf A di papan tulis, dan aku
samasekali ga tau itu huruf apa.. dan ibu guru bertanya dengan nada tinggi
mengapa aku menangis??, dan aku hanya sesugukkan tidak bisa menjawab. Itulah pengalaman
hari pertamaku di kelas, hanya sekitar 2 jam kalo tidak salah ingat. Kemudian saat
dibubarkan kelasnya, aku berlari kencang ke arah papa dan memeluk beliau dengan
erat sambil terus mengeluarkan airmata. Papa bertanya mengapa aku menangis,
namun aku hanya diam dan diam saja. HHHH... seru ya ???
Segini dulu ya,
pembacaku yang kukasihi..
Besok akan kulanjutkan
lagi kisah hidupku ini..
Terima kasih telah mampir dan menyempatkan
diri membaca tulisan ini ya
salam pelangi nusantara
(^_^)