Rabu, 22 Agustus 2012

Aku si balita tabah


Salam bahagia slalu,
Rasanya udah hampir 3 tahun aku punya blog..
Tapi perasaan, isinya kurang rasa ya.. (^^)
Pas duduk-duduk tadi, akhirnya kuputuskan untuk memulai sesuatu
Mulai saat ini, detik ini..
Aku akan berusaha menyajikan kisah hidupku apa adanya
Jadi kalo diibaratkan, seperti sebuah buku harian..
Aku akan berusaha berbagi kisah apa yang telah kualami..
Bagaimana aku bisa sampai dan masih bernafas hari ini (^_^)
Semoga pembaca yang berkunjung ke blog ini..
Dapat ikut merasakan berbagai perasaanku, entah itu manis maupun pahit
Semua adalah proses yang telah kujalani selama ini..
Selamat mengikuti episode demi episode ya..

Namaku Huang Shu Shu.. itu aslinya ya.. terlahir di hari anak 40 tahun yang lalu
Kisah kelahiranku ini sangat unik sebenarnya,,
Adalah masa-masa itu, keadaan orangtuaku sangatlah memprihatinkan.
Mereka tinggal di sebuah tempat kost yang sangat sederhana, saat mengandungku itu, mama juga sedang menyusui abangku Andy.
Beberapa tahun yang lalu, mamaku pernah menceritakan bahwa, sebenarnya kelahiranku ini tidaklah diharapkan, alias tak terduga. Ditengah keadaan ekonomi dan situasi politik yang tidak nyaman, mama mengetahui dirinya mengandung lagi saat sudah memasuki usia kandungan 5 bulan. Selama ini ternyata, mama telah seringkali melakukan pembatalan terhadap pembuahan di rahimnya, jdi kalo dihitung2, mungkin aku ini anak yang ke sekian belas. (^_^)
Proses kelahiranku dibantu seorng bidan, dan sangatlah rumit, sehingga menyebabkan trauma mendalam bagi mama untuk memiliki keturunan berikutnya. Karena trauma melahirkan diriku, kemudian mamapun memutuskan steril, yang kebetulan saat itu ada program KB gratis, salah satunya adalah steril pembuahan bagi rahim wanita.

Sebenarnya kehidupan mama semasa muda juga sangat menyedihkan, di mana saat usia 13 tahun, beliau telah ditinggal wafat ibundanya tercinta, sehingga mereka hampir tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, yang kebetulan pun sejak nenek meninggal, kakek tidak lagi pernah menikah. Kakekku adalah seorang tukang kayu, membuat perabotan rumah tangga.Demikian sekilas informasinya (^_^)

Kembali lagi ke cerita tentang diriku ya, nah, ternyata, kata mama, aku ini ga suka minum susu, jadi sejak 5 bulan terlahir ke dunia ini, minumnya hanya air putih dan teh manis saja.. keren juga ya. Nah, waktu terus berlalu, hingga saat usiaku menginjak sekitar 3-4 tahun, kedua orangtuaku merantau ke ibukota, yang kebetulan pamanku, adek mama, menjadi manajer yang sukses kehidupannya di ibukota ini. Namun mama papa tetap saja kos di tempat sederhana sambil terus mencari kerja untuk bertahan hidup. Demikian susahnya kehidupan kami, sampai-sampai setiap hari harus minta tolong ke warung nasi agar pembayaran makanan boleh belakang hari. Saat itu harga sepiring nasi plus kuah sayur asem Rp. 25. 

Dan yang luarbiasa, kata mama, aku ini tidak pernah rewel semasa kecil. Salah satu anak yang tabah dan ga nyusahin orangtua. Coba bayangkan, setiap hari makan hanya sekali, cukup jam 11 siang makan nasi plus sayur asem, sampe keesokan hari, aku tidak pernah nangis kelaparan atau apapun yang bisa membuat gelisah orangtuaku. Dan hal ini baru saja kuketahui 5 tahun terakhir ini..
Saat aku tau bahwa aku ini sangat sabar, kuucapkan puji syukur kepada Sang Maha Tunggal, pemelihara semesta alam ini, betapa bahagianya aku bisa terlahir dengan sebuah kepribadian yang sederhana dan luarbiasa buat takaran seorang balita.. sungguh luarbiasa rasanya, pembacaku.. aku sungguh merasa sangat terberkati terlahir ke dunia ini, walau dalam kondisi yang apa adanya.. (^^)

Ah, mungkin ada di antara pembaca yang menganggapku besar kepala, namun sebaliknya yang kurasakan hanya berkat luarbiasa, tidak lebih dari itu dan tidak ada yang lain. 

Demikianlah kemudian hari demi hari kami jalani, hingga akhirnya papa mama memutuskan kembali lagi ke daerah meninggalkan kerasnya ibukota. Saat itu usiaku 6 tahun, dan kami menumpang tinggal dan hidup di rumah kakek, bersama beberapa keluarga yang lain. Aku ingat, kami tidur di atas loteng yang gelap, di bawah atap seng, karena memang hanya di sana tempat yang memungkinkan di rumah kakek. Semua ruangan di rumah sudah ditempati saudara2 mamaku yang juga sudah berkeluarga, kalo tidak salah ada 4 keluarga di rumah kakekku itu. Tidak pernah aku rewel maupun nangis, aku hanya diam dan ke mana-mana hanya mengekor mamaku saja. Beberapa waktu lamanya aku tinggal di sana, dan suatu hari, pas akan menyebrang ke lapangan bola, entah mengapa, sebuah vespa menghantamku, sehingga tubuh mungilku terlempar dan aku pingsan seketika. Mama yang sedang berdiri di depan pintu berteriak histeris. Aku tidak ingat siapa yang menggendongku ke dalam rumah, meletakkanku di atas kursi, hingga aku sadar kembali. Saat itu dari hidungku bercucuran darah, dan sejak itu, hingga 20 tahun kemudian, aku selalu mengalami mimisan, secara tiba-tiba, entah itu kala keadaan dingin, atau sedang bermain atau saat panas terik, maka selalu ada darah mengalir dari hidungku..
Setahun kemudian, kakek menjual rumah yang di tempatinya, dan mama pun mendapatkan bagian dari penjualan rumah, sehingga kami bisa membeli sebuah rumah sederhana ukuran 4 x 9 m di daerah pinggiran kota. Waktu itu harga rumah Rp. 500.000.

Saat itu usiaku dah hampir 7 tahun dan saatnya masuk sekolah dasar. Waktu itu mama mendaftarkanku pada sekolah terbaik di daerahku, sebuah sekolah Katolik dengan iuran sekolah yang tergolong mahal, karena keadaan ekonomi papa yang pas-pasan, jatah sekolahku masuk sore hari bersama abangku Andy. 
Jadi SD kami itu ada 3, SD 1 dan 3 itu sekolah pagi, buat anak2 orang kaya dan mampu, sedangkan  sekolahnya mulai siang hingga sore, dan diperuntukkan kalangan menengah ke bawah. Ini jelas kok, sudah kuperhatikan kondisi teman2 ku saat itu. Biasanya para anak orang kaya, mereka rata2 mampu masuk Taman Kanak2 sebelum memasuki sekolah dasar, sementara bagi kami, cukup langsung saja masuk ke SD nya. Jadi kebayang kan, aku ini belum mengenal huruf samasekali.
Kejadian hari pertama masuk sekolah, aku memakai baju merah marun pemberian tanteku, berhubung badanku yang tinggi besar, maka aku di tempatkan bu guru di barisan paling belakang.     

Nah, aku ingat sekali, saat bu guru memperkenalkan diri, kemudian berjalan menuju masing2 kami, sambil bertanya, apakah ada yang telah mengenal huruf. Saat bu guru bertanya padaku sambil memegang penggaris kayu yang panjang, entah mengapa aku langsung menangis. Bu guru menuliskan huruf A di papan tulis, dan aku samasekali ga tau itu huruf apa.. dan ibu guru bertanya dengan nada tinggi mengapa aku menangis??, dan aku hanya sesugukkan tidak bisa menjawab. Itulah pengalaman hari pertamaku di kelas, hanya sekitar 2 jam kalo tidak salah ingat. Kemudian saat dibubarkan kelasnya, aku berlari kencang ke arah papa dan memeluk beliau dengan erat sambil terus mengeluarkan airmata. Papa bertanya mengapa aku menangis, namun aku hanya diam dan diam saja. HHHH... seru ya ???

Segini dulu ya, pembacaku yang kukasihi..
Besok akan kulanjutkan lagi kisah hidupku ini..
Terima kasih telah mampir dan menyempatkan diri membaca tulisan ini ya

salam pelangi nusantara
(^_^)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar