Sabtu, 07 April 2012

Tulus tetap jawara

Salam pelangi nusantara kita,

ada 4 deklarasi yang kusaksikan, 3 lewat live streaming dan satu lagi kuhadiri langsung.
dan tebaklan, kawanku, tetap kurasakan hingga saat ini, belum ada yang mampu memenangkan rasa kebersamaan kami dalam segala kesederhanaan yang dibangun dengan segala setulusan.

cerita apa sih in ???
pasti ada yang bertanya-tanya bukan?
jadi, begini, pembacaku terkasih,
seperti beberapa bulan yang lalu, pernah kuceritakan tentang deklarasi daerah kami yang penuh semangat perjuangan dalam membangun kembali nilai-nilai luhur berbudi pekerja dalam kearifan lokal di nusantara ini, di mana saat itu aku sempat merasakan sangat sederhananya kami dibandingkan dengan daerah lain yang menyelenggarakan deklarasi di tempat mewah, hotel berbintang lima.

Saat kuikuti, tenyata memang Tuhan itu Maha Adil, dalam segala kemewahan deklarasi di daerah lain, tdak kutemukan sebuah spirit kebersamaan dan ketulusan, yang terlihat adalah kaku dan dingin, tanpa kesan apapun. Sampai saat ini, masih kunilai, bahwa acara yang kami selenggarakan dalam kesederhanaan deklarasi daerah kami tetap yang terbaik dan sangat berkesan, sangat mengharukan, sangat membangkitkan semangat tuk berbakti bagi nusa bangsa dengan mengorbankan jiwa dan harta kami.

ternyata ..
jelas kulihat, bahwa kemewahan yang ditampilkan orang-orang, terkadang menghilangkan makna yang ada, dan kesederhanaan yang kami tampilkan, yang mendapat cemooh satu dua pihak, karena ketidakcanggihan IT dan sempitnya tempat, ternyata justru kesederhanaan itu yang menghasilkan sesuatu yang luarbiasa hebat.

Aku tetap ingin menjadi jawara di nusantara ini, tetap kami ingin menjadi yang terbaik, walau banyak pihak yang selalu mencari-cari kelemahan kami. Mereka lupa bahwa Tuhan itu Maha Adil, Tuhan Maha segalanya.. (^_^)

Ah..
tumpah sudah unek-unek ini,
segala rasa syukur yang kunikmati detik demi detik
rasa nasionalisku sebagai warga Indonesia yang menggelora..
ketulusan tetap akan menjadi jawara, di manapun berada..

salam damai selalu ya
maap banget kalo tulisannya agak ga berasa.. HHH..
tetap semangat ya..

,, (^_^) ,,

Rabu, 04 April 2012

Cintailah Agung-ku

Salam damai selalu bagi kita,

sebenarnya udah beberapa minggu ini, aku ingin sekali menulis, dan berbagi, namun karena tidak ada spirit, makanya beranda rumah ini kosong selama hampir 40 hari lamanya,, (^_^) ,,

hari ini, aku ingin sekali menulis tentang pemikiran manusia, ini pun hasil analisaku terhadap beberapa orang dengan beberapa kondisi.
cerita ini berawal dari perbincanganku dengan sahabat terbaikku, Agung. Saat itu, dalam kelompok belajarnya, selalu ada pertanyaan, kapan mereka bisa wisata keluar. Selalu itu yang dipertanyakan. Nah, pembacaku terkasih, permasalahan sahabatku itu dalah pada masalah biaya. Jika, diadakan wisata keluar, apakah para orangtua kelompok belajar mau mengeluarkan dana untuk itu, sementara seperti keadaan yang ada saat ini saja, kadang-kadang masih terbentur dengan ongkos transportasi.

Kucoba cari tau apa penyebabnya, ternyata adalah mereka sering melihat kelompok belajar yang lain mengadakan wisata belajar keluar, di mana setelah kuketahui mereka adalah kelompok belajar dengan para orangtua yang mapan, dan sanggup mengeluarkan ratusan ribu rupiah buat biaya transportasi dan makan anak-anaknya, sementara kelompok belajar sahabatku sebaliknya. Kemudian aku berpikir lagi, apakah sebenarnya yang diinginkan orangtua bagi anaknya ?

Mengapa tidak ditanamkan moral dan etika yang baik dalam keluarga, daripada hanya memikirkan hal-hal duniawi seperti wisata jalan-jalan itu? Apakah ada hal yang tidak berkenan dari para orangtua atas apa yang telah sahabatku lakukan ? Ya begitulah ternyata manusia, kadang mereka hanya melihat satu sisi saja, mereka bahkan tidak mau mehamai bahwa dalam mengelola sebuah kelompok belajar, itu dibutuhkan dedikasi tinggi, bukan hanya sekedar saja.

Jujur saja aku sangat prihatin dengan keadaan anak-anak dalam kelompok belajar yang sepertinya kurang mendapat didikan etika dari orangtua mereka, sementara orangtua mereka malah menuntut kepada orang lain agar mau memenuhi keinginan duniawi mereka. Jika memang orangtua ingin membawa anaknya wisata jalan, bukankah bisa dilakukan sendiri bersama keluarganya, mengapa harus membebankan biaya tersebut kepada oranglain? (^_^)

Aku sangat bahagia memiliki seorang sahabat seperti Agung, telah hampir 17 tahun lamanya kami bersama, dan sangat jarang menemukan orang yang bertanggung jawab penuh terhadap pekerjaan yang diembannya secara sukarela, tanpa pamrih. Jarang sekali orang yang mau mengorbankan harta dan jiwa mereka bagi kemakmuran dan kebahagiaan oranglain, tapi tidak dengan sahabatku ini. Dia selalu saja memikirkan kepentingan oranglain di atas dirinya sendiri, terkadang bahkan dia rela kelaparan demi menyisihkan uang yang dia punya buat kelompoknya. Luarbiasa bukan ???

Semoga Tuhan semesta alam selalu memberikan yang terbaik buatnya dan selalu mencintainya sampai kapanpun.

Pembacaku terkasih, 
bagi kalian yang memiliki anak, peliharalah mereka dengan mengajarkan akhlak yang mulia dan etika yang baik dalam keluarga dan lingkungan sekitar. Mohon jangan membebankan apa yang kalian inginkan ke oranglain, jika kalian memang tidak mampu melakukannya sendiri.
Mulailah hidup dengan segala keikhlasan dan niat untuk membuat anak-anak kita mempunyai budi luhur, berbudi pekerti yang baik. Jangan memanjakan anak kita dengan kemewahan dan jalan-jalan yang membuai, jika ingin jalan-jalan, buatlah sebuah program yang bisa menambah pengetahuan dan pengalaman berharga bagi mereka.

Sampai jumpa di lain cerita ya

salam pelangi nusantara kita

,, (^_^) ,,

Bahagia dalam sederhana

Salam pelangi nusantara,

Terima kasihku dan sujud syukur selalu kupanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan semesta alamku. 
Entah benar atau tidak, jika rasa terima kasih dan syukur ini ada kaitannya dengan masalah duniawi.
Ingin sekali rasanya diri ini selalu bersyukur dalam hal apapun, namun dalam tulisan kali ini, syukurku yang ada terkait dengan masalah duniawi.

Alkisah, perjalanan hidupku telah memasuki tahun ke 40 di dunia ini, kalo ada grafik yang menggambarkan, tentulah perjalanan itu ada naik turunnya. 
Jika orang-orang luar terutama pihak sanak keluarga memandang kehidupanku, tentulah mereka akan memasukkanku dalam kategori menengah ke bawah, dan jika bisa lebih pas nya, ekonomi lemah banget deh (^_^)


Namun, entah mengapa, semua bisa kulalui dengan sabar dan ikhlas, walau sebagai manusia normal, ada kalanya ingin juga merasakan kehidupan kalangan atas. Waktu bulan Oktober 2011, saat menghadiri pemakaman salah satu pamanku, Hendrik, aku bertemu dengan sanak keluarga pihak mama. 

Memang selama ini, aku selalu berusaha ga terlalu dekat dengan sanak keluarga, disebabkan keadaan ekonomiku, entah itu sebenarnya baik atau kurang baik, namun aku hanya ingin melindungi keluargaku dari hinaan orang. Apalagi sampai ada yang berpikir jika kami hanya akan menjdi beban bagi keluarga kaya itu.. (^_^). Nah di pertemuan itu, aku bertemu dengan salah satu adek mamaku bernama Hendra, dengan penuh hormat kusapa beliau sambil menanyakan kabar. Kemudian, tebaklah, pertanyaan-pertanyaan dari pamanku dan juga statementnya yang begitu merendahkanku. Beliau bertanya, dengan apa aku datang, aku bilang naik motor bututku, kemudian katanya, kan itu jauh, dan kujawab, biasa saja, kalau masih bisa dijangkau dengan motor, bagiku itu tidaklah terlalu jauh dan tidak ada masalah. Lalu apa katanya padaku, kawan? Wah, kok kehidupanmu sangat menyedihkan dan susah ya ? Aku sempat tersenyum, dan kutanyakan kembali, apa kriteria dia mengatakan kehidupanku susah? apakah hanya karena aku hanya mampu membeli sebuah motor butut, sementara semua anak-anaknya punya mobil mewah? Lalu kulihat ke wajah anak-anaknya, semua suram, tidak ada tampak wajah bahagia di sana, sementara, sepupu-sepupuku mengatakan bahwa aku makin cantik dan seksi saja, itu setelah mereka bertahun-tahun tidak pernah bertemu denganku. HHHHH

Di sanalah kupetik sebuah hikmah dan pelajaran yang sangat berguna, bahwa dengan segala keikhlasan dan kesabaran menjalankan kehidupan sederhana ini dengan bahagia, akan terpancar sinar bahagia pada wajah dan kepribadian kita. Sejak itu perlahan-lahan, keajaiban datang kepadaku, aku bisa menghadiahkan putriku Ruh sebuah perjalanan wisata ke candi Borobudur di Jogjakarta, juga buat putra sulungku hadiah wisata ke pulau Dewata, di mana saat itu banyak sekali yang dipelajarinya di sana. Perjalanan yang kulakukan bersama anak-anakku, bukan hanya sekedar saja, namun adalah untuk belajar dan mendapatkan suatu hikmah tentang semesta alam.

HHH, sampai hari ini, aku selalu berusaha bersyukur dan terus bersyukur atas udara yang kuhirup, atas semua kebaikan Tuhan semesta alam, dan setiap detak jantungku adalah nikmat dan bahagia tak terhingga.

Semoga aku akan selalu menjadi seorang hamba yang bersahaja, tetap menikmati hidup dalam kesederhanaan, tetap menjalankan nilai-nilai luhur semesta alam dalam kebijaksanaan.

Terima kasih pembacaku yang setia, atas kesempatan meluangkan waktu di beranda pelangiku.


,, (^_^) ,,