Jam menunjukkan pukul 01.26, berati hari tlah pagi di Januari 10, 2012
kurasakan hatiku sakit, pikiranku melayang..
ya,, aku belum bisa menerima kenyataan ini..
ah..makin sakit kurasakan,, perutku melilit..
apa yang sebenarnya tlah terjdi, pembacaku terkasih?
aku baru saja kehilangan seorang ibu angkat, Yoeni Tanurahardja
kepergian beliau yang mendadak, tanpa kusadari..
aku kenal ibu Yoeni sejak tahun 2006, waktu itu ibu sering mampir ke toko tempatku bekerja.
beliau sangat unik di mataku, selalu tergesa-gesa, hanya mampir beberapa saat, kemudian pergi.
setahun kemudian, aku pindah kerja, dan bertemu kembali dengan ibu Yoeni di toko yang lain.
demikianlah, selalu kuperhatikan kalo ibu ini selalu tergesa-gesa.
hingga pertengahan tahun 2010, saat beliau datang ke toko kami, dengan temannya, di saat itu temannya bernama Ibu Asrin, seorang dokter, menyapaku hangat, beliau menawarkan pertemanan lewat diskusi suatu saat nanti.
aku menyanggupinya, karena memang aku miskin ilmu, sehingga banyak sekali yang ingin kupelajari, terutama dari mereka-mereka yang sudah berusia lanjut dan kaya pengalaman hidup.
kupenuhi tawaran pertemuan itu dengan datang mengunjungi ibu Yoeni, yang rumahnya tidak jauh dari tempatku bekerja.
pada hari itu jugalah aku diperkenalkan dengan agama Baha'i.
luarbiasa,,, hanya itu yang kurasakan.
perlahan-lahan kupelajari buku yang diberikan ibu, yang secara garis besar mengajarkan tentang budi pekerti dan akhlak.
selama dua bulan, aku tekun mempelajari agama Baha'i, dengan dibimbing ibu Yoeni, hingga suatu siang, aku meneteskan airmata saat membaca salah satu halaman, aku tak kuasa merasakan kedamaian dan keindahan kalimat-kalimat yang ditulis Sang Bab.
perlahan-lahan, semua itu merubah kehidupanku, aku semakin damai, semakin dewasa dalam berpikir, dan semakin sabar, karena budi pekerti yang mulia yang diajarkan.
namun, setahun kemudian, hubunganku dengan ibu Yoeni hampir merenggang, beliau yang tlah menganggapku seperti anaknya, telah jarang kutemui.
hal itu karena kebodohanku dan kebebalanku yang masih terkungkung (terpenjara) dogma.
merasa apa yang tlah kudapat dalam ajaran agamaku adalah yang paling benar, sehingga tekanan dari dalam komunitas, membuatku menjaga jarak dengan agama Baha'i.
ibu Yoeni masih sering meneleponku, dan aku sering menghindar. Beliau masih sering mengajak bertemu, hingga akhirnya suatu saat, setelah hampir setahun aku menghindar, suatu saat aku tidah dapat menahan kerinduanku, aku pun datang mampir bertemu dan ngobrol.
Beliau tetap ramah seperti biasanya, dan berjanji akan mengajakku berkumpul dengan komunitas Baha'i lainnya di bulan September 2011 nanti, sepulang beliau dari India.
namun tiba-tba saja, pertengahan Oktober 2011, beliau sakit perut dan setelah dibawa ke dokter, ternyata ada tumor dalam perutnya, dan harus operasi.
aku tidak tahu samasekali, hanya pernah menelepon beliau dan merasakan keanehan karena suara beliau yang biasanya tergesa-gesa dan tegas, tiba-tiba saja lemah.
aku menanyakan apakah keadaan beliau baik-baik saja, beliau mengatakan hanya sedikit lelah setelah perjalanan panjang ke negara Inggris dan Canada.
Desember 02, 2011, siang hari aku menerima kabar kalo ibu Yoeni dalam keadaan lemah, dan akan segera diberangkatkan ke Singapore, anaknya Asta memintaku untuk datang menjenguk beliau, dan secepat kilat, saat lunch time, kusempatkan diri menuju ke rumah ibu Yoeni.
kutemui beliau yang dalam keadaan lemah, kupeluk dengan perih, melihat kondisi beliau yang tidak seperti biasanya.
aku mengajak beliau ngobrol yang ringan-ringan saja, tanpa ada pemikiran atau firasat apapun.
kupijat lembut kakinya, dan kulihat beliau hanya terbaring lemah di tempat tidur.
ternyata, itulah pertemuan terakhirku dengan ibu Yoeni.
sore harinya, beliau diberangkatkan ke Singapore, dan ternyata memang itulah keinginan beliau, ingin menghabiskan sisa waktunya di sana.
Tanggal 17 Desember 2011, aku sempat menelpon anaknya ibu Yoeni di Singapore, dan kurasakan hal yang tidak biasanya, kata Asta, mamanya baik-baik saja dan ingin meninggal dan dimakamkan di Singapore. Ternyata, semua anak-anaknya telah mengetahui jika kesehatan ibu Yoeni yang terus menurun, tidak lagi memungkinkan beliau bertahan lebih lama.
Dan entah tanggal berapa persisnya ibu Yoeni meninggal, hanya dikatakan 3 minggu yang lalu per tanggal hari ini, saat tadi siang kutelepon.
aku masih belum bisa mempercayai apa yang disampaikan Asta, apakah ini hanya lelucon ?
akhirnya, pagi ini, aku mencari tau lewat situs pertemanan, ada anak ibu Yoeni yang kutahu nama lengkapnya, akhirnya kutemukan nama kak Yana dan kuminta menjdi temanku di FB.
di beranda kak Yana, pada tgl 19 Desemebr 2011, kubaca salah satu komentar, bahwa memang benar ibu Yoeni telah meninggal dunia.
aku pun pasrah akan kuasa Tuhan semesta alam..
dalam 2 bulan berturut-turut, orang-orang yang kusayangi pergi meninggalkanku, 01 Oct 2011 yang lalu, pamanku yang tertua, Hendra K, meninggal akibat kanker paru-paru, 2 hari kemudian 03 Oct 2011, kakak iparku yang seorang guru matematika, Gunawan S, meninggal dunia secara tiba-tiba dalam keadaan tidur, meninggalkan kami tanpa pesan apapun, dan saat firasatku mengatakan bahwa ada lagi orang yang kusayangi akan pergi, ternyata adalah ibu Yoeni Tanurahardja, yang telah mengajarkanku kesederhanaan dan budi pekerti luhur yang luarbiasa.
setelah menuliskan semua ini, rasa sakitku berkurang, karena aku ingin mengabadikan sedikit kenangan dalam tulisan ini..
selamat jalan ibu Yoeni Tanurahardja..
perjuanganmu yang luarbiasa sebagai seorang guru piano sejak muda hingga menutup mata di usia 75 tahun, telah mengantarkan anak-anakmu berhasil semua.
aku bahagia bisa pernah mengenal seorang ibu Yoeni Tanrahardja..
salam pelangi nusantara..
,, (*_*) ,,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar